“Bro, coba deh Anda pakai Surfer’s Strategy: Riding the Wave…”
“Lha, konsep strategi apa lagi ini Mas Vic, gimana caranya …?”
Ini cuplikan obrolan saya sekitar tiga bulan yang lalu, dalam sebuah pertemuan tak disengaja dengan seorang kawan lama di sebuah kedai kopi dekat kantor. Sembari sesekali menyeruput segelas espresso panas pekat kehitaman yang senantiasa menggugah selera para kopi-mania, kawan saya tersebut, seorang pengusaha muda di bidang konstruksi, curhat panjang lebar mengeluhkan ketatnya persaingan di bidang usaha konstruksi yang telah lama digelutinya. Dengan melonjaknya harga-harga, skala ekonomispun meningkat tajam dan hanya segelintir pemain besar sajalah yang masih mampu bertahan meskipun dengan marjin laba yang berkurang. Sedangkan pemain kecil seperti dia semakin kehabisan akal bahkan untuk sekedar menjaga “going concern” bisnis dan menafkahi beberapa orang pegawai.
“Tolong jelasin dong Mas….sepertinya menarik ini…!”
Strategi “Riding the Wave (Surfer’s Strategy)” sebenarnya bukanlah suatu konsep baru yang muluk-muluk yang dibangun dengan kerangka ilmiah yang rumit, mungkin pula sebenarnya Anda sudah lama menerapkan strategi ini tanpa disengaja dalam kehidupan sehari-hari. Ini hanyalah istilah praktikal dari saya pribadi, yang secara tak sengaja tercetus dalam benak ketika tengah asyik nongkrong menyaksikan kelincahan para peselancar (surfers) mengendarai ombak di sebuah pantai yang eksotik. Sungguh mengagumkan! para peselancar yang rata-rata bertubuh ramping berotot mengkilat tersengat matahari tersebut dengan lincahnya berseliweran di atas ombak raksasa yang – bagi non-peselancar seperti saya – sebenarnya lebih cenderung menakutkan daripada menyenangkan. “…did you see my new style babe…? it’s really cool, babe…!” (teriak seorang pemuda surfer berambut pirang panjang sebahu yang baru “menepi” dari berselancar ria dan berjalan sekitar dua meter di depan saya sambil tersenyum penuh kebanggaan pada pasangannya (mungkin pacar atau isterinya, sebab si gadis blonde berbikini merah itu menyambutnya hangat — lengkap dengan bumbu peluk cium segala, serta selanjutnya mengelap-ngelap keringat campur air laut di sekujur badan si surfer dengan ikhlasnya – wah… pasti super asin banget tuh keringat campur air laut, pikirku geli). Halah Bro…, gaya sih gaya…tapi kalo gue sih mendingan pilih hidup biasa saja tanpa gaya deh daripada mati tenggelam sambil bergaya…. (gumam saya dalam hati, sambil tersenyum kecut menghibur diri, seperti biasa… menutupi ketidakberanian diri ini untuk melakukan olahraga ekstrem).
Tapi….ah, sudah tentu bukan si gadis seksi berbikini merah itu yang seharusnya jadi fokus pikiran saya (huuh…susah nian menjaga hati, saya harus berusaha ekstra keras mengalihkan pandangan dari si gadis seksi ke arah bangkai pepohonan kering yang sama sekali tidak seksi, yang tergolek di sana sini di sisi pantai). Yang menggugah pemikiran saya adalah bagaimana manusia yang kecil-kecil itu (dibanding si ombak raksasa) bisa memanfaatkan (mengendarai) ombak raksasa itu untuk mencapai tujuan (kesenangan, olahraga, dan excitement). Semakin besar ombak justeru makin bagus dan menyenangkan bagi para peselancar (surfers) tersebut. Mereka tampak menari-nari di atas ombak bagaikan cowboy yang berhasil mengendalikan kuda di arena rodeo. Apa kuncinya? Ya…, Anda betul, kunci suksesnya adalah bahwa mereka tidak melawan atau menaklukkan ombak secara frontal, tetapi mencari cara jitu bagaimana memanfaatkan energi ombak raksasa tersebut. Jadi menurut hemat saya, istilah yang tepat untuk para surfer tersebut adalah bukan “melawan” dan “menaklukkan” ombak melainkan “menunggangi” atau “memanfaatkan” ombak. Mereka mencoba mengarahkan papan seluncurnya sedemikian rupa sehingga si papan seluncur bisa bergerak sesuai dorongan dan arah gulungan ombak. Saya tidak paham bagaimana sebenarnya teknis berselancar, namun kalau saya perhatikan (dengan mata awam), jelas mereka “memanfaatkan energi” ombak untuk berselancar ria dengan lincahnya, karena papan seluncur mereka tidak dilengkapi motor atau mesin.
“Ya iya lah….masa papan selancar pake mesin…ngemeng-ngemeng, Mas Vic ini malah keasyikan cerita tentang surfer dan gadis berbikini toh…ini masih siang lho mas. …Lagi pula apa hubungannya dengan bisnis saya toh Mas…?”
“Sabar ya Bro, ceritaku belum selesai ini….!”
Secara natural, dibutuhkan usaha ekstra keras untuk si kecil agar bisa melawan dan menaklukkan si besar. Saya bukan mengatakan mustahil. Ya, David bisa mengalahkan Goliath. Ribuan semut kecil yang bersatu mungkin bisa mengalahkan seekor gajah. Tapi, apakah semua manusia dikaruniai mukjizat seperti David dalam kisah David vs Goliath? Apakah semua individu yang lemah bisa bersatu padu membentuk asosiasi yang luar biasa dalam waktu singkat layaknya kisah semut versus gajah?
Benar, tidak mustahil yang kecil bisa mengalahkan yang besar, tapi ada cara yang lebih praktis agar si kecil dapat survive secara bersama-sama dengan si besar tanpa harus bertempur satu sama lain, yaitu “Riding the Wave” seperti peselancar (surfer) mengendarai ombak. Artinya, si kecil bisa survive dengan “menunggangi” (baca: memanfaatkan energi) si besar, sudah tentu tanpa harus merugikan yang besar. Seorang peselancar (surfer), ketika “Riding the Wave”, akan segera terpelanting jatuh ke dalam gelombang ketika ia salah mengarahkan papan selancarnya ke arah yang berlawanan dengan arah energi si gelombang besar. Artinya, si kecil, ketika “menunggangi” (memanfaatkan energi) si besar harus pandai-pandai menempatkan diri agar tetap searah, sejalan, dan tidak berlawanan atau merugikan kegiatan si besar. Model kerja sama yang terbaik sudah pasti simbiosis mutualisma (menguntungkan kedua belah pihak), bukan parasitisma (merugikan salah satu pihak).
“Betul juga ya Mas….tapi aku kok masih gak gitu mudheng iki Mas…Apa hubungannya kisah tunggang-menunggang itu dengan bisnisku..??”
“Halah Bro…kok susah banget ya ngejelasinnya….kayaknya kita sudah kelamaan ngobrol nih… sudah jam berapa ini..???” [Diam-diam saya jadi khawatir juga dengan skill berbicara saya yang mungkin saja benar sulit dimengerti orang. Dan seperti biasa, kalau sudah mulai lelah ngobrol ngalor ngidul, saya berlagak sibuk melihat jam tangan. Tapi demi melihat wajahnya yang masih polos penuh tanda tanya, OK deh saya ikhlaskan untuk melanjutkan obrolan...].
Daripada bersaing secara head to head dengan pengusaha besar, perusahaan kecil dapat menjalankan strategi “Riding the Wave”, menunggangi (memanfaatkan energi) perusahaan besar. Sudah tentu no such a free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Si perusahaan besar akan mau “ditunggangi” jika ia memperoleh keuntungan tertentu dari kerja sama tersebut, dan si perusahaan kecil tidak merugikan atau melakukan kegiatan yang berlawanan dengan misi di perusahaan besar (ingat Surfer yang terpelanting pada konsep “Riding the Wave” pada penjelasan sebelumnya). Inilah kerja sama yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisma) sekaligus tetap menjaga integritas dan kewibawaan masing-masing, karena setidaknya toh si perusahaan kecil tetap bisa menjaga kehormatannya, karena ia bukan “free rider” (penumpang gratisan) dan bukan parasit. Jadi, ketika Anda yang punya perusahaan kecil ingin mengambil inisiatif “Riding the Wave”, carilah perusahaan besar yang aktivitas bisnisnya memberi peluang bagi Anda untuk “menunggangi”, ajukan proposal bisnis yang convincing bahwa kerja sama ini akan menguntungkan si perusahaan besar, lebih cost effective dan bernilai tambah bagi si perusahaan besar daripada dikerjakan sendiri. Misalnya, secara kalkulasi biaya, sebuah stasiun televisi baru mungkin lebih baik meng-outsource program acara-nya kepada production house daripada memproduksi sendiri. Tapi ingat, Anda harus menyajikan hitung-hitungan bisnis secara masuk akal dan benar dalam proposal Anda, agar si perusahaan besar tertarik dan merasa comfortable untuk menerima Anda sebagai mitra. Dari point of view Anda sebagai pengusaha kecil, Anda menerapkan strategi “Riding the Wave”, sedangkan dari sisi si perusahaan besar, ini merupakan Outsourcing yang menguntungkan.
“Lha apa bedanya dong Mas dengan konsep inti-plasma, kemitraan dengan koperasi dan sebagainya yang sudah lama didengungkan oleh pemerintah…?”
Ya….konsep-konsep tersebut bisa disebut sebagai penerapan strategi “Riding the Wave” dari sudut pandang si perusahaan kecil jika kemitraan yang terjadi didasarkan atas inisiatif untuk saling menguntungkan, dan tidak ada keterpaksaan hanya karena memenuhi order pemerintah. Pseudo-partnership (kemitraan semu) kebanyakan gagal, kenapa..? karena si perusahaan besar hanya “terpaksa” menerima perusahaan kecil atau koperasi sebagai mitranya tanpa perhitungan added-value (nilai tambah) yang masuk akal in the long run. Inti strategi “Riding the Wave” adalah tawaran kerjasama dari perusahaan kecil yang menguntungkan baik bagi si perusahaan kecil maupun perusahaan besar, win-win solution, saling percaya (trust), dan si perusahaan kecil harus memahami dan berjalan dalam kerangka visi dan misi si perusahaan besar.
Pendek kata, “Riding the Wave/surfer’s strategy” (dari sudut pandang pihak yg kecil) adalah memanfaatkan energi kawan yang lebih besar namun tidak untuk melumpuhkannya, melainkan untuk memperoleh kuntungan bersama yang optimum, baik untuk si kecil (yang “menunggangi”) maupun si besar (yang “ditunggangi”) — win-win solution. Derajat optimisasi kerja sama ini harus ditunjukkan melalui economic modelling yang reasonable (menguntungkan secara kalkulasi bisnis), agar si perusahaan besar willing to accept si perusahaan kecil menjadi bagian dari gelombang bisnisnya. Seperti halnya Surfer (peselancar) yang harus memposisikan dirinya dan papan selancarnya utk menghasilkan resultan energi yang optimal dengan energi gelombang laut (wave) agar ia bisa menunggangi gelombang (riding the wave) dengan comfortable. Otherwise, dia akan terpelanting jatuh ke laut.
Di dunia politik, strategi ini dipakai oleh kandidat-kandidat yang berkualitas namun berasal dari partai kecil yang tidak/kurang punya basis massa yg kuat, yg kemudian menggandeng “menunggangi” partai yang lebih besar yg punya mesin politik yg lebih kuat. Kalau si kandidat (dari partai kecil) tidak menyelaraskan misinya dengan si partai besar (baca: tidak menguntungkan si partai besar), ia akan terpelanting. kalau tidak gagal dalam pilkada/pemilu, ya kalaupun terpilih dia akan digoyang terus oleh gelombang (wave) resistensi mesin politik si partai besar selama tenure kepemimpinannya. Jadi, kalau si kandidat punya idealisme yang ingin dipertahankan — yang jauh berbeda dengan si partai besar, tentu harus berpikir seribu kali sebelum “menunggangi” partai besar bersangkutan, salah-salah malah idealismenya jadi gak jelas di mana konstituen aslinya.
“Wah….terus terang ya Mas….penjelasan Mas Vic ini sebenarnya menarik, tapi aku masih gak mudheng juga Mas…..”
[Gubrak...!!] Saya mulai speechless.
“Mas Vic, tolong dong obrolan kita ini ditulis dan di-email ke aku yah…nah…nanti aku pelajari baik-baik di rumah deh…..terima kasih ya Mas atas advice dan Kopinya……”
[Gubrak...2x !!] Saya lebih speechless lagi.
Lha… memangnya ini meeting resmi….pake disuruh nulis minutes of meeting segala, harus kirim email lagi. Tapi tak apalah, saya selalu senang menulis iseng-iseng di sela waktu luang, dan tidak ada salahnya berbagi ke teman. Dan dia segera pamit bergegas seperti biasa, bergaya seperti pengusaha yang sok sibuk.
Lama tak ada kabar, sampai akhirnya tadi malam, sang pengusaha muda menelepon saya dengan nada riang, di tengah malam buta ketika saya sedang ngantuk berat – baru saja berharap dapat mimpi indah. Dasar pengusaha workaholic.
“Mas Vic, thanks mas atas tips strategi “Riding the Wave”-nya….aku baru saja dapat kontrak dari PT X untuk menyuplai tenaga kerja konstruksi, dengan nilai 1 miliar untuk 3 bulan….itu lho mas, ini bagian dari proyek pembangunan pabrik Y Mas…”
Terlepas dari nominalnya, saya pikir ini awal yang bagus, PT X adaalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di negeri ini. Dan di tengah rasa kantuk yang teramat sangat, saya masih bisa tersenyum. Tidur lagi ah….moga-moga dapet mimpi indah ketemu gadis pujaan!
(Vic Rahman)