MI (Micro Inequities)

September 2, 2008

“How far you go in life depends on your being tender with the young, compassionate with the aged, sympathetic with the striving and tolerant of the weak and strong, because someday in life you will have been all of these.”  (George Washington Carver)

Di sela-sela padatnya jadwal meeting dan kesibukan kerja, saya beruntung masih sempat memperoleh pencerahan dari sahabat saya yang manis, smart, ramah, dan baik hati: Apple Carolino. Apple membawa saya pada pemikiran tentang MI (Micro Inequities) dan dampaknya pada kinerja perusahaan.

Micro Inequities (MI)…?  Mungkin Anda pernah mendengar istilah ini. Mungkin juga secara tak sengaja Anda telah melakukan MI, atau bahkan menjadi korban MI.

Micro Inequities (MI) secara harfiah bisa diartikan sebagai ketidakadilan mikro. Ini sebenarnya istilah lama yang dicetuskan oleh Prof. Mary Rowe dari MIT pada tahun 1973. MI merujuk pada perilaku seseorang yang disengaja atau tidak telah merendahkan, mengabaikan, atau men-discourage semangat orang lain. Banyak contohnya. Misalnya, Anda makan siang bersama tiga orang kawan Anda di sebuah restoran. Lalu Anda mengobrol tentang suatu hal yang hanya dimengerti oleh dua dari tiga kawan Anda, sehingga salah satu kawan Anda sama sekali tidak bisa “nyambung” dengan obrolan Anda dan hanya bisa diam seribu bahasa. Berarti Anda telah melakukan MI terhadap kawan Anda yang “terabaikan” tersebut. Contoh lain, Anda punya dua orang staf. Tapi Anda hanya selalu mengajak makan siang salah satu staf yang lebih Anda sukai. Ini juga salah satu bentuk MI. Banyak contoh MI, disengaja atau tidak, disadari atau tidak.

Susahnya, ternyata banyak hal-hal kecil yang mungkin tidak kita sadari ternyata bisa masuk kategori MI. Jadi, ada kemungkinan Anda “meng-MI” orang lain secara tak disengaja. Misalnya, ketika seorang teman berbicara kepada Anda, lalu Anda tidak memperhatikan secara serius pembicaraan teman Anda, karena sibuk membaca sms atau mengecek email penting di Blackberry Anda, teman Anda bisa merasa “di-MI” oleh Anda. Perbedaan budaya pun bisa menimbulkan MI. Misalnya, Anda berbicara dengan seorang teman dari kultur tertentu yang terbiasa berbicara sambil menatap mata lawan bicara, maka jika Anda berbicara sambil menunduk, Anda juga bisa dianggap melakukan MI. Pada kesempatan lain, Anda memimpin rapat. Lalu Anda hanya memberikan kesempatan pada staf tertentu untuk berbicara, dan lupa memberikan kesempatan berbicara pada staf lainnya. Hal ini bisa pula dianggap sebagai MI. Bahkan senyum yang tidak tulus pun (fake, masked, forced smile) termasuk katagori MI. Singkat kata, MI bisa berbentuk perilaku, bahasa tubuh, perkataan, verbal maupun non-verbal, ekspresi rasialis, sengaja maupun tidak disengaja. MI yang kronis dan berkelanjutan bisa memunculkan perasaan unfairness (ketidakadilan) yang mendalam bagi korban.

Jika Anda seorang pemimpin perusahaan, sebaiknya Anda tidak meremehkan dampak MI pada bisnis Anda. Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh Korn/Ferry International tahun lalu, lebih dari 2 juta professional dan manajer memilih keluar dari perusahaannya karena merasa diperlakukan unfair (tidak adil) di tempat kerjanya, dengan total kerugian sekitar USD 64 miliar per tahunnya, terutama biaya untuk merekrut pegawai pengganti (hiring costs). Belum lagi kerugian yang sulit diukur, seperti terbangnya tacit knowledge bersamaan dengan hengkangnya pegawai lama, tersendatnya operasional perusahaan, menurunnya produktivitas, waktu yang tersita untuk mendidik karyawan baru, risiko pada reputasi perusahaan (reputational risks), dan sebagainya. Dalam kasus ekstrim, karyawan bisa mengajukan tuntutan hukum (law suit) pada perusahaan yang dianggap membiarkan praktik MI dan ketidakadilan tanpa adanya upaya nyata untuk mengendalikan atau menghentikannya. Itulah kenapa di kantor saya, kampanye pencegahan MI dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Bahkan ketika saya menginterview kandidat pegawai untuk kantor saya, saya selalu diingatkan pada aturan baku, bahwa saya harus berhati-hati dalam bersikap pada kandidat yang diinterview, jangan sampai sikap, pertanyaan, dan perilaku saya bisa menyinggung perasaan si kandidat, termasuk yang disebabkan oleh perbedaan kultur. Ini jelas tertulis pada petunjuk baku interview kami, yang berlaku standar di seluruh dunia di manapun kami beroperasi. Di perusahaan global, memang sangat penting adanya pengakuan dan penghargaan pada diversity (keanekaragaman). Karena justru penghargaan pada diversity inilah yang menjadi titik pijak penting untuk membangun cohesiveness (kekuatan ikatan) dan unity (kesatuan) antara ratusan ribu talent yang berasal dari latar belakang disiplin ilmu dan budaya yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Dan mencegah MI sudah tentu bukan hanya perlu dilakukan di tempat kerja atau untuk keperluan bisnis semata. Kita perlu pula berdisiplin mencegah MI dalam perilaku kita sehari-hari, di manapun kita berada. Saya yakin semua ajaran agama tidak menyukai praktik-praktik MI yang berpotensi menyakiti hati orang lain. Dan bulan suci yang mulia ini adalah saat yang tepat untuk mulai mengevaluasi diri dan memperbaiki perilaku kita, mulai dari hal-hal kecil, dan nampak sepele, seperti MI.

“You’re what people say about you, not what you think about yourself.”

Vic Rahman, Sept’02, 2008.


The Ultimate Kindness Strategy: “Jen & Lovely”

August 12, 2008

Ada beberapa hotel tertentu di beberapa kota yang menjadi preference saya tiap kali harus singgah, di antaranya The Rubens Hotel di London, Shangrila di Bangkok, Georgetown Suites di Washington DC, Le Meridien di Kuala Lumpur, dan beberapa hotel lainnya. Semuanya dengan alasan yang berbeda-beda. The Rubens karena cukup dekat dengan Buckingham Palace dan Victoria Station, cukup mudah mengeksplore kota London dari titik ini. Shangrila Bangkok “ngangenin” karena panorama pinggir sungainya yang seperti oasis di tengah ruwetnya kota Bangkok. Georgetown Suites karena memang saya suka happening area di Georgetown di tengah suasana DC yang cenderung monoton dan membosankan. Le Meridien karena dengan jalan kaki kita sudah sampai di KL Sentral yang menjadi hub sarana transportasi di KL. Sudah tentu alasan-alasan ini belum tentu menarik orang lain, karena personal sifatnya. Namun ada sebuah ”common reason” yang mendasar yang mungkin jadi syarat minimal bagi semua orang, yaitu keramahan layanan dan kesiap-sediaan pegawai hotel untuk membantu para tamu hotel dengan totalitas customer-focus. Saya kira Anda pasti setuju bahwa keramahan layanan di hotel setidaknya berperan penting untuk mengurangi kepenatan dan stress kita, apalagi jika kita travelling untuk tujuan bisnis. Apa yang Anda rasakan ketika Anda disambut dengan muka masam tanpa senyum di hotel, setelah lelah melalui proses menjemukan di Bandara dan kemacetan lalu lintas?

Ada satu hotel lain yang baru saya temukan di Manila, Hotel ”X” (sengaja saya hide namanya untuk menghindari kesan promosi, mengingat hotel ini yang menjadi fokus catatan saya kali ini). Sedikitnya ada tiga faktor yang membuat saya merasa betah tinggal di hotel ini. Pertama, panorama pinggir pantainya yang menyegarkan, yang mengingatkan saya pada suasana Shangrila Bangkok. Kedua, adanya golf driving range persis menghadap laut yang membuat acara olah raga jadi tidak membosankan. Ketiga, karena ”Jen & Lovely”…

Jen & Lovely…? bukan, ini bukan nama sebuah butik, bukan pula nama toko cokelat. Lovely..? nama yang unik bukan? tapi ini benar, Jen dan Lovely adalah nama dua pegawai di Hotel X yang sungguh mengesankan hati saya. Bukan karena kecantikan keduanya yang memikat. Ya, keduanya memang rupawan… Jen sangat lembut mengingatkan saya pada Sandra Dewi. Lovely sangat cantik mengingatkan saya pada Crystal Liu yang bermain di film Forbidden Kingdom bareng Jet Li dan Jackie Chan. Tapi far beyond their natural beauty, yang sangat mengesankan adalah keramahan dan senyum tulus serta kesigapan keduanya dalam membantu tamu hotel. Tiap kali saya turun ke lobby hotel memerlukan secangkir kopi, saya melihat senyum ramah Jen yang menyejukkan hati di sana. Setiap kali saya singgah di club lounge, Lovely dengan sigap menanyakan apa yang perlu dibantu, dan akan membantu hingga tuntas. Mereka melayani saya dengan ramah jelas bukan karena saya tamu di Executive Floor, karena saya akan dengan mudah bisa membedakan antara sikap ”diskriminatif” dan yang genuine. Stop…Anda tidak perlu bertanya lebih jauh bagaimana hubungan saya dengan kedua gadis ini, tapi yang ingin saya tekankan adalah setiap staf hotel hingga manajemennya perlu memiliki spirit keramahan dan ketulusan seperti Jen dan Lovely. Jen dan Lovely adalah pegawai biasa. Namun justru merekalah yang menjadi ujung tombak penentu: apakah tamu hotel akan terkesan dan tak segan datang kembali, ataukah sebaliknya. Senyum….ya setidaknya inilah yang harus ditunjukkan ke setiap customer. Mungkin ada di antara Anda yang bergegas check out dan pindah ke hotel lain gara-gara sikap concierge atau receptionist yang ketus dan tidak tulus membantu. Ya, keramahan layanan adalah elemen utama dalam strategi experiential dan customer-focus dalam bisnis hospitality.

Namun sejatinya bukan hanya bisnis perhotelan dan hospitality lainnya yang memerlukan keramahan. Semua bisnis, bahkan kehidupan sehari-hari kita memerlukan indahnya keramahan. Anda bayangkan, ketika ada partner bisnis Anda yang tengah mempresentasikan proposalnya di hadapan Anda, dengan sikap arogan dan ketus. Apa yang Anda rasakan? Setidaknya, Anda akan ingin segera mengakhiri sesi presentasi itu, bukan? Lalu cerminkan ke diri Anda sendiri. Hal yang sama akan dirasakan oleh partner bisnis Anda, jika Anda bersikap tidak ramah dan arogan selama negosiasi. Ingat teori klasik negosiasi: Jika ”lawan” Anda tidak comfortable dan merasa Anda terlalu agresif dan arogan, maka dia akan cenderung ultra-defensif dan membangun barrier lebih tinggi. Ini tentu counter-productive untuk negosiasi Anda. Mungkin Anda pernah berada dalam situasi weird, ketika Anda harus duduk satu meja dengan ”saingan” bisnis Anda. Namun kalau Anda berhasil melewati situasi ini dengan penuh senyum tulus dan keramahan, maka Anda sudah bisa dikatakan menang selangkah atas saingan Anda. Ramah, ternyata kata yang sederhana namun ampuh untuk memenangkan hati kawan maupun lawan.

Kemampuan kita bersikap ramah adalah syarat utama untuk bisa hidup nyaman di tengah lingkungan pergaulan kita sehari-hari.

”If you don’t want to be lonely, build bridges, not walls, in your life.”

Dan suatu hari nanti pasti saya akan kembali ke Hotel X. Mudah-mudan masih ada Jen & Lovely di sana….

(Vic Rahman)


Riding the Wave (The Surfer’s Strategy)

August 12, 2008

“Bro, coba deh Anda pakai Surfer’s Strategy: Riding the Wave…”

“Lha, konsep strategi apa lagi ini Mas Vic, gimana caranya …?”

Ini cuplikan obrolan saya sekitar tiga bulan yang lalu, dalam sebuah pertemuan tak disengaja dengan seorang kawan lama di sebuah kedai kopi dekat kantor. Sembari sesekali menyeruput segelas espresso panas pekat kehitaman yang senantiasa menggugah selera para kopi-mania, kawan saya tersebut, seorang pengusaha muda di bidang konstruksi, curhat panjang lebar mengeluhkan ketatnya persaingan di bidang usaha konstruksi yang telah lama digelutinya. Dengan melonjaknya harga-harga, skala ekonomispun meningkat tajam dan hanya segelintir pemain besar sajalah yang masih mampu bertahan meskipun dengan marjin laba yang berkurang. Sedangkan pemain kecil seperti dia semakin kehabisan akal bahkan untuk sekedar menjaga “going concern” bisnis dan menafkahi beberapa orang pegawai.

“Tolong jelasin dong Mas….sepertinya menarik ini…!”

Strategi “Riding the Wave (Surfer’s Strategy)” sebenarnya bukanlah suatu konsep baru yang muluk-muluk yang dibangun dengan kerangka ilmiah yang rumit, mungkin pula sebenarnya Anda sudah lama menerapkan strategi ini tanpa disengaja dalam kehidupan sehari-hari. Ini hanyalah istilah praktikal dari saya pribadi, yang secara tak sengaja tercetus dalam benak ketika tengah asyik nongkrong menyaksikan kelincahan para peselancar (surfers) mengendarai ombak di sebuah pantai yang eksotik. Sungguh mengagumkan! para peselancar yang rata-rata bertubuh ramping berotot mengkilat tersengat matahari tersebut dengan lincahnya berseliweran di atas ombak raksasa yang – bagi non-peselancar seperti saya – sebenarnya lebih cenderung menakutkan daripada menyenangkan. “…did you see my new style babe…? it’s really cool, babe…!” (teriak seorang pemuda surfer berambut pirang panjang sebahu yang baru “menepi” dari berselancar ria dan berjalan sekitar dua meter di depan saya sambil tersenyum penuh kebanggaan pada pasangannya (mungkin pacar atau isterinya, sebab si gadis blonde berbikini merah itu menyambutnya hangat — lengkap dengan bumbu peluk cium segala, serta selanjutnya mengelap-ngelap keringat campur air laut di sekujur badan si surfer dengan ikhlasnya – wah… pasti super asin banget tuh keringat campur air laut, pikirku geli). Halah Bro…, gaya sih gaya…tapi kalo gue sih mendingan pilih hidup biasa saja tanpa gaya deh daripada mati tenggelam sambil bergaya…. (gumam saya dalam hati, sambil tersenyum kecut menghibur diri, seperti biasa… menutupi ketidakberanian diri ini untuk melakukan olahraga ekstrem).

Tapi….ah, sudah tentu bukan si gadis seksi berbikini merah itu yang seharusnya jadi fokus pikiran saya (huuh…susah nian menjaga hati, saya harus berusaha ekstra keras mengalihkan pandangan dari si gadis seksi ke arah bangkai pepohonan kering yang sama sekali tidak seksi, yang tergolek di sana sini di sisi pantai). Yang menggugah pemikiran saya adalah bagaimana manusia yang kecil-kecil itu (dibanding si ombak raksasa) bisa memanfaatkan (mengendarai) ombak raksasa itu untuk mencapai tujuan (kesenangan, olahraga, dan excitement). Semakin besar ombak justeru makin bagus dan menyenangkan bagi para peselancar (surfers) tersebut. Mereka tampak menari-nari di atas ombak bagaikan cowboy yang berhasil mengendalikan kuda di arena rodeo. Apa kuncinya? Ya…, Anda betul, kunci suksesnya adalah bahwa mereka tidak melawan atau menaklukkan ombak secara frontal, tetapi mencari cara jitu bagaimana memanfaatkan energi ombak raksasa tersebut. Jadi menurut hemat saya, istilah yang tepat untuk para surfer tersebut adalah bukan “melawan” dan “menaklukkan” ombak melainkan “menunggangi” atau “memanfaatkan” ombak. Mereka mencoba mengarahkan papan seluncurnya sedemikian rupa sehingga si papan seluncur bisa bergerak sesuai dorongan dan arah gulungan ombak. Saya tidak paham bagaimana sebenarnya teknis berselancar, namun kalau saya perhatikan (dengan mata awam), jelas mereka “memanfaatkan energi” ombak untuk berselancar ria dengan lincahnya, karena papan seluncur mereka tidak dilengkapi motor atau mesin.

“Ya iya lah….masa papan selancar pake mesin…ngemeng-ngemeng, Mas Vic ini malah keasyikan cerita tentang surfer dan gadis berbikini toh…ini masih siang lho mas. …Lagi pula apa hubungannya dengan bisnis saya toh Mas…?”

“Sabar ya Bro, ceritaku belum selesai ini….!”

Secara natural, dibutuhkan usaha ekstra keras untuk si kecil agar bisa melawan dan menaklukkan si besar. Saya bukan mengatakan mustahil. Ya, David bisa mengalahkan Goliath. Ribuan semut kecil yang bersatu mungkin bisa mengalahkan seekor gajah. Tapi, apakah semua manusia dikaruniai mukjizat seperti David dalam kisah David vs Goliath? Apakah semua individu yang lemah bisa bersatu padu membentuk asosiasi yang luar biasa dalam waktu singkat layaknya kisah semut versus gajah?

Benar, tidak mustahil yang kecil bisa mengalahkan yang besar, tapi ada cara yang lebih praktis agar si kecil dapat survive secara bersama-sama dengan si besar tanpa harus bertempur satu sama lain, yaitu “Riding the Wave” seperti peselancar (surfer) mengendarai ombak. Artinya, si kecil bisa survive dengan “menunggangi” (baca: memanfaatkan energi) si besar, sudah tentu tanpa harus merugikan yang besar. Seorang peselancar (surfer), ketika “Riding the Wave”, akan segera terpelanting jatuh ke dalam gelombang ketika ia salah mengarahkan papan selancarnya ke arah yang berlawanan dengan arah energi si gelombang besar. Artinya, si kecil, ketika “menunggangi” (memanfaatkan energi) si besar harus pandai-pandai menempatkan diri agar tetap searah, sejalan, dan tidak berlawanan atau merugikan kegiatan si besar. Model kerja sama yang terbaik sudah pasti simbiosis mutualisma (menguntungkan kedua belah pihak), bukan parasitisma (merugikan salah satu pihak).

“Betul juga ya Mas….tapi aku kok masih gak gitu mudheng iki Mas…Apa hubungannya kisah tunggang-menunggang itu dengan bisnisku..??”

“Halah Bro…kok susah banget ya ngejelasinnya….kayaknya kita sudah kelamaan ngobrol nih… sudah jam berapa ini..???” [Diam-diam saya jadi khawatir juga dengan skill berbicara saya yang mungkin saja benar sulit dimengerti orang. Dan seperti biasa, kalau sudah mulai lelah ngobrol ngalor ngidul, saya berlagak sibuk melihat jam tangan. Tapi demi melihat wajahnya yang masih polos penuh tanda tanya, OK deh saya ikhlaskan untuk melanjutkan obrolan...].

Daripada bersaing secara head to head dengan pengusaha besar, perusahaan kecil dapat menjalankan strategi “Riding the Wave”, menunggangi (memanfaatkan energi) perusahaan besar. Sudah tentu no such a free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Si perusahaan besar akan mau “ditunggangi” jika ia memperoleh keuntungan tertentu dari kerja sama tersebut, dan si perusahaan kecil tidak merugikan atau melakukan kegiatan yang berlawanan dengan misi di perusahaan besar (ingat Surfer yang terpelanting pada konsep “Riding the Wave” pada penjelasan sebelumnya). Inilah kerja sama yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisma) sekaligus tetap menjaga integritas dan kewibawaan masing-masing, karena setidaknya toh si perusahaan kecil tetap bisa menjaga kehormatannya, karena ia bukan “free rider” (penumpang gratisan) dan bukan parasit. Jadi, ketika Anda yang punya perusahaan kecil ingin mengambil inisiatif “Riding the Wave”, carilah perusahaan besar yang aktivitas bisnisnya memberi peluang bagi Anda untuk “menunggangi”, ajukan proposal bisnis yang convincing bahwa kerja sama ini akan menguntungkan si perusahaan besar, lebih cost effective dan bernilai tambah bagi si perusahaan besar daripada dikerjakan sendiri. Misalnya, secara kalkulasi biaya, sebuah stasiun televisi baru mungkin lebih baik meng-outsource program acara-nya kepada production house daripada memproduksi sendiri. Tapi ingat, Anda harus menyajikan hitung-hitungan bisnis secara masuk akal dan benar dalam proposal Anda, agar si perusahaan besar tertarik dan merasa comfortable untuk menerima Anda sebagai mitra. Dari point of view Anda sebagai pengusaha kecil, Anda menerapkan strategi “Riding the Wave”, sedangkan dari sisi si perusahaan besar, ini merupakan Outsourcing yang menguntungkan.

“Lha apa bedanya dong Mas dengan konsep inti-plasma, kemitraan dengan koperasi dan sebagainya yang sudah lama didengungkan oleh pemerintah…?”

Ya….konsep-konsep tersebut bisa disebut sebagai penerapan strategi “Riding the Wave” dari sudut pandang si perusahaan kecil jika kemitraan yang terjadi didasarkan atas inisiatif untuk saling menguntungkan, dan tidak ada keterpaksaan hanya karena memenuhi order pemerintah. Pseudo-partnership (kemitraan semu) kebanyakan gagal, kenapa..? karena si perusahaan besar hanya “terpaksa” menerima perusahaan kecil atau koperasi sebagai mitranya tanpa perhitungan added-value (nilai tambah) yang masuk akal in the long run. Inti strategi “Riding the Wave” adalah tawaran kerjasama dari perusahaan kecil yang menguntungkan baik bagi si perusahaan kecil maupun perusahaan besar, win-win solution, saling percaya (trust), dan si perusahaan kecil harus memahami dan berjalan dalam kerangka visi dan misi si perusahaan besar.

Pendek kata, “Riding the Wave/surfer’s strategy” (dari sudut pandang pihak yg kecil) adalah memanfaatkan energi kawan yang lebih besar namun tidak untuk melumpuhkannya, melainkan untuk memperoleh kuntungan bersama yang optimum, baik untuk si kecil (yang “menunggangi”) maupun si besar (yang “ditunggangi”) — win-win solution. Derajat optimisasi kerja sama ini harus ditunjukkan melalui economic modelling yang reasonable (menguntungkan secara kalkulasi bisnis), agar si perusahaan besar willing to accept si perusahaan kecil menjadi bagian dari gelombang bisnisnya. Seperti halnya Surfer (peselancar) yang harus memposisikan dirinya dan papan selancarnya utk menghasilkan resultan energi yang optimal dengan energi gelombang laut (wave) agar ia bisa menunggangi gelombang (riding the wave) dengan comfortable. Otherwise, dia akan terpelanting jatuh ke laut.

Di dunia politik, strategi ini dipakai oleh kandidat-kandidat yang berkualitas namun berasal dari partai kecil yang tidak/kurang punya basis massa yg kuat, yg kemudian menggandeng “menunggangi” partai yang lebih besar yg punya mesin politik yg lebih kuat. Kalau si kandidat (dari partai kecil) tidak menyelaraskan misinya dengan si partai besar (baca: tidak menguntungkan si partai besar), ia akan terpelanting. kalau tidak gagal dalam pilkada/pemilu, ya kalaupun terpilih dia akan digoyang terus oleh gelombang (wave) resistensi mesin politik si partai besar selama tenure kepemimpinannya. Jadi, kalau si kandidat punya idealisme yang ingin dipertahankan — yang jauh berbeda dengan si partai besar, tentu harus berpikir seribu kali sebelum “menunggangi” partai besar bersangkutan, salah-salah malah idealismenya jadi gak jelas di mana konstituen aslinya.

“Wah….terus terang ya Mas….penjelasan Mas Vic ini sebenarnya menarik, tapi aku masih gak mudheng juga Mas…..”

[Gubrak...!!] Saya mulai speechless.

“Mas Vic, tolong dong obrolan kita ini ditulis dan di-email ke aku yah…nah…nanti aku pelajari baik-baik di rumah deh…..terima kasih ya Mas atas advice dan Kopinya……”

[Gubrak...2x !!] Saya lebih speechless lagi.

Lha… memangnya ini meeting resmi….pake disuruh nulis minutes of meeting segala, harus kirim email lagi. Tapi tak apalah, saya selalu senang menulis iseng-iseng di sela waktu luang, dan tidak ada salahnya berbagi ke teman. Dan dia segera pamit bergegas seperti biasa, bergaya seperti pengusaha yang sok sibuk.

Lama tak ada kabar, sampai akhirnya tadi malam, sang pengusaha muda menelepon saya dengan nada riang, di tengah malam buta ketika saya sedang ngantuk berat – baru saja berharap dapat mimpi indah. Dasar pengusaha workaholic.

“Mas Vic, thanks mas atas tips strategi “Riding the Wave”-nya….aku baru saja dapat kontrak dari PT X untuk menyuplai tenaga kerja konstruksi, dengan nilai 1 miliar untuk 3 bulan….itu lho mas, ini bagian dari proyek pembangunan pabrik Y Mas…”

Terlepas dari nominalnya, saya pikir ini awal yang bagus, PT X adaalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di negeri ini. Dan di tengah rasa kantuk yang teramat sangat, saya masih bisa tersenyum. Tidur lagi ah….moga-moga dapet mimpi indah ketemu gadis pujaan!

(Vic Rahman)